KETIKA BAHASA INDONESIA KEHILANGAN JATI DIRI PADA ZAMAN SEKARANG

 

Nama Kuliah             : Pembinaan dan Pengajaran Bahasa Indonesia

Dosen                          : Lisa Septia Dewi Br.Ginting, S.Pd,. M.Pd.

Nama Mahasiswa      : Dhea Ayuanda

Npm                            : 221214007

Prodi                           :Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Kelas/ Semester         : 6A

 

KETIKA BAHASA INDONESIA KEHILANGAN JATI DIRI

PADA ZAMAN SEKARANG



Bahasa Indonesia adalah simbol identitas nasional yang menyatukan keberagaman budaya dan suku bangsa. Sebagai bahasa resmi, perannya sangat penting dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk pendidikan, pemerintahan, dan komunikasi sehari-hari. Namun, di era globalisasi, bahasa Indonesia menghadapi tantangan serius akibat pengaruh bahasa asing, terutama bahasa Inggris. Jika fenomena ini terus berlanjut tanpa adanya upaya pelestarian, maka bahasa Indonesia bisa kehilangan jati dirinya.

 

Pengaruh Globalisasi terhadap Bahasa Indonesia

Globalisasi membawa berbagai kemudahan dalam berkomunikasi, terutama melalui perkembangan teknologi dan media sosial. Namun, hal ini juga berdampak pada penggunaan bahasa Indonesia. Dalam berbagai bidang, seperti bisnis, akademik, dan teknologi, istilah asing semakin mendominasi. Misalnya, penggunaan kata meeting, deadline, brainstorming, dan networking lebih sering ditemukan dalam percakapan formal maupun informal dibandingkan dengan padanannya dalam bahasa Indonesia, yaitu “rapat”, “batas waktu”, “curah pendapat”, dan “jejaring” (Kridalaksana, 2010).

Selain itu, generasi muda cenderung lebih banyak menggunakan bahasa campuran dalam komunikasi digital. Fenomena ini tidak hanya mengubah pola bahasa sehari-hari tetapi juga menyebabkan degradasi dalam pemakaian bahasa Indonesia yang sesuai dengan kaidah.

 

Kurangnya Kesadaran dalam Menggunakan Bahasa Indonesia yang Baku

Salah satu penyebab melemahnya jati diri dalam bahasa Indonesia adalah kurangnya kesadaran masyarakat dalam menggunakan bahasa yang baik dan benar. Menurut Alwi (2003), banyak media, baik cetak maupun digital, yang tidak memperhatikan aturan kebahasaan sehingga masyarakat terbiasa dengan penggunaan bahasa yang tidak baku. Misalnya, dalam berbagai iklan dan publikasi, sering ditemukan penggunaan bahasa yang tidak sesuai dengan Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Di samping itu, penggunaan bahasa gaul dan singkatan dalam komunikasi digital juga semakin marak. Walaupun dapat dianggap sebagai bentuk kreativitas, penggunaan bahasa yang tidak baku dalam jangka panjang dapat menggeser pemahaman terhadap bahasa yang benar. Hal ini berisiko menurunkan kualitas bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi yang digunakan dalam pendidikan, hukum, dan administrasi negara.

 

 

 

Dampak Kehilangan Jati Diri Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia sebagai bahasa ilmu pengetahuan berpotensi tergeser jika publikasi akademik lebih banyak menggunakan bahasa asing. Hal ini menghambat perkembangan literatur ilmiah dalam bahasa Indonesia dan membatasi akses masyarakat terhadap ilmu pengetahuan dalam bahasa nasional (Moeliono, 1989). Jika masyarakat lebih mengutamakan bahasa asing, maka rasa kebanggaan terhadap bahasa nasional akan berkurang, yang dapat berdampak pada menurunnya rasa nasionalisme. Selain bahasa Indonesia, bahasa daerah juga mengalami ancaman kepunahan akibat dominasi bahasa asing. Jika bahasa Indonesia saja kehilangan jati dirinya, maka bahasa daerah yang lebih rentan bisa semakin terpinggirkan.

 

Upaya Pelestarian Bahasa Indonesia Untuk mencegah hilangnya jati diri bahasa Indonesia

Meningkatkan Kesadaran kita dalam menggunakan Berbahasa Indonesia yang baik dan benar perlu digalakkan melalui berbagai media. Pemerintah, akademisi, dan masyarakat harus bekerja sama dalam menjaga kemurnian bahasa Indonesia. Selain itu dikurikulum pendidikan harus lebih menekankan pentingnya penggunaan bahasa Indonesia dalam berbagai bidang ilmu. Buku ajar dan jurnal ilmiah dalam bahasa Indonesia harus diperbanyak agar bahasa ini tetap menjadi alat komunikasi ilmiah yang utama. Bahasa Indonesia harus terus berkembang sesuai dengan zaman sekarang termasuk dalam ranah digital. Kamus dan aplikasi penerjemah bahasa Indonesia perlu diperbarui secara berkala agar tetap relevan.

 

Kesimpulan

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang harus kita jaga agar tidak kehilangan jati dirinya. Pengaruh globalisasi dan kurangnya kesadaran dalam berbahasa dapat menyebabkan pergeseran yang berdampak buruk bagi eksistensi bahasa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan upaya bersama dari pemerintah, akademisi, dan masyarakat untuk mempertahankan bahasa Indonesia sebagai simbol identitas bangsa. Melestarikan bahasa berarti menjaga keutuhan dan kebanggaan terhadap bangsa Indonesia.

Referensi

 Alwi, H. (2003). Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Kridalaksana, H. (2010). Pembentukan Kata dalam Bahasa Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Moeliono, A. (1989). Kebijakan Bahasa: Masalah dan Pemecahannya. Jakarta: Pusat Bahasa.

Komentar